adab tarbiyah

Tarbiyah, Adab, Sikap Menghargai dan Semangat

Mar 17 • Tarbiyah • 856 Views • No Comments on Tarbiyah, Adab, Sikap Menghargai dan Semangat

Oleh : Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

Sebagian diantara kita, ada yang telah merasakan manisnya hidayah dan nikmatnya menuntut ilmu berawal dari halaqah tarbiyah. Tapi lambat laun merasa bahwa tarbiyah tidak mengajarkan ilmu kecuali hanya sedikit saja. Alasannya, saat pengajian ilmu tidak banyak yang bertambah, sedang rasa haus akan ilmu semakin besar di dalam dada ditambah lagi dengan semangat untuk menggapai ilmu itu sangat besar dan menggebu-gebu.

Sayangnya kita tidak pandai bersyukur akan hal itu, kita tidak mensyukuri betapa manisnya hidayah yang kita rasakan sekarang.  Yang dahulu  kita raih melalui majelis sederhana ini, betapa hafalan al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kian bertambah tiap pekannya yang dikontrol melalui halaqah sederhan ini, betapa banyak materi demi materi penting yang dijelaskan oleh seorang murabbi, berpindah dari satu pembahsan ke pembahasan lainnya saat tarbiyah ini. Tapi kita kurang bersyukur, kita katakan itu tidak menambah ilmu kecuali sedikit saja.

Saudaraku, bersyukurlah…

Sesungguhnya materi-materi tarbiyah itu sudah melalui proses penyusunan cukup lama. Disusun dengan mempertimbangkan kemampuan orang-orang yang akan ditarbiyah agar menjadikan mereka dapat menguasai dasar-dasar ilmu dan dapat diajarkan secara berjenjang, tidak sekaligus agar dapat menguatkan pemahaman.

Oleh karena itu penulis mausu’ah syaikh Al-Albani rahimahullah, Syaikh Dr. Muhammad an-Nu’man hafizhahullah memuji halaqah ini setelah melihat modul tarbiyahnya dengan mengatakan: “Materi yang luar biasa, bagus dan sistematis.” Tidak lupa beliau meminta foto copinya sebelum ia pulang ke negaranya.

Saya mengingat perkataan Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam masalah ini ketika membahas tata cara menuntut Ilmu. Beliau rahimahullah berkata:

من لم يتقن الأصول، حرم الوصول، و “من رام العلم جملة، ذهب عنه جملة”، وقيل أيضاً:”ازدحام العلم في السمع مضلة الفهم.” وعليه، فلا بد من التأصيل والتأسيس لكل فن تطلبه، بضبط أصله ومختصره على شيخ متقن، لا بالتحصيل الذاتي وحده، وخذاً الطلب بالتدرج.

Siapa yang tidak menguasai dasar-dasar ilmu niscaya ia tidak akan bisa menguasai ilmu yang diinginkan. Siapa yang ingin mengambil ilmu langsung sekaligus, niscaya ilmu itu akan pergi (hilang) sekaligus juga darinya. Dikatakan juga bahwa penuh sesaknya ilmu yang didengarkan dapat menyesatkan pemahaman. Maka dari itu hendaknya engkau mempelajari dasar-dasar ilmu pada setiap cabang ilmu yang engkau ingin pelajari, dengan cara menekuni dasar-dasar ilmu itu dan ringkasannya dari seorang guru yang mumpuni, tidak secara otodidak, serta hendaknya menuntut ilmu dilakukan secara tadarruj (berjenjang). (Hilayu Thalib al-Ilm: 25)

Syaikh Muhammad Ibn Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

أن يبني الإنسان طلبه على أصول ( وهي القواعد والضوابط مأخوذة بالتتبع من الكتاب و السنة) ولا يتخبط تخبط عشوائي لأن الأصول هو العلم والمسائل فروع لها . فإذا لم تكن الفروع على أصل جيد فإنها تذبل وتهلك

Hendaknya seseorang tatkala ia belajar, ia menguatkan dasar ilmunya dulu (yaitu kaidah-kaidah yang diambil melalui penelaan terhadap al-Qur’an dan sunnah) dan tidak mengambilnya secara serampangan. Sebab dasar-dasar ilmu itulah ilmu yang sesungguhnya, sedang masalah-masalah yang lain hanyalah cabang-cabangnya. Apabila cabang ilmu itu tidak memiliki akar (dasar) yang baik, niscaya hal itu hanya akan membinasakan. (Maktabah Syamilah; Mukhtashar Hilyati Thalib al-Ilm: 6)

 Selanjutnya beliau (syaikh Muhammad Ibn Shalih al-Utsaimin rahimahullah) berkata:

إذا أراد الإنسان أن يأخذ العلم جميعا فإنه يفوته العلم جميعا لابد أن تأخذ العلم شيئا فشيئا كسلم تصعد عليه من الأرض إلى السطح لأنه يحتاج مرونة وجد وثبات وتدرج .

لا ينبغي أن تأخذ العلم عن طريق الكتب فقط لا بد أن يكون لك شيخاً معتمداً لديه من الأمانة والإتقان ولهذا قيل : ” من كان دليله كتابه كان خطؤه أكثر من صوابه “.

Jika seseorang hendak mengambil ilmu semuanya secara langsung sekaligus, niscaya ilmu itu akan hilang darinya. Hendaknya engkau mengambil ilmu sedikit demi sedikit sebagaimana seseorang yang menaiki tangga dari tanah menuju atap rumah. Sebab menuntut ilmu itu butuh keuletan, kesungguhan, keistiqamanhan dan harus secara bertahap.

Tidak boleh engkau mengambil ilmu hanya melalui buku saja bahkan harus melalui guru yang terpercaya bahwa ia memiliki amanah ilmiyah dan menguasainya. Oleh karena itu dikatakan bahwa siapa yang menjadikan buku sebagai gurunya niscaya kesalahannya akan lebih banyak daripada kebenarannya.” (Maktabah Syamilah; Mukhtashar Hilyati Thalib al-Ilm: 6)

Saudaraku…

Jika dalam tarbiyahmu murabbimu tegas dalam bermualah denganmu maka perhatikanlah dengan baik, untuk apa ia melakukan itu. Jika itu untuk menguatkan dalam mengontrol hafalan ilmu dan kedisiplinanmu maka tabah dan sabarlah, namun jika ketegasannya itu untuk kepentingan dirinya sendiri maka nasehatilah.

Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah ta’ala berakata:

وعلى المتعلم أن يلقى زمامه إلي المعلم اللقاء المريض زمامه إلي الطبيب، فيتواضع له ، ويبالغ فى خدمته .وقد كان ابن عباس رضى الله عنه يأخذ بركاب زيد بن ثابت رضى الله عنه ويقول : هكذا أمرنا أن نفعل بالعلماء . ومتى تكبر المتعلم أن يستفيد من غير موصوف بالتقدم فهو جاهل، لأن الحكمة ضالة المؤمن أينما وجدها أخذها، وليدع رأيه لرأى معلمه فان خطأ المعلم أنفع للمتعلم من صواب نفسه .

Dan hendaknya bagi seorang murid menyerahkan penanganan akan pendidikan dirinya kepada gurunya sebagaimana seorang yang sakit menyerahkan penanganan kesehatan dirinya kepada seorang dokter, hingga ia merasa rendah diri kepadanya dan beruapaya untuk membantunya.

Dahulu Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah mengambil(memegang) tali kekang hewan tunggangan Zaid Ibn Tsabit radhiyallahu ‘anhu (untuk menuntunnya) lalu berkata: “Beginilah kami diperintahkan untuk bersikap kepada para ulama.”

“Apabila seorang murid merasa sombong dari mengambil faidah pada seseorang yang tidak terkenal maka dia adalah murid itu adalah orang bodoh. Sebab hikmah itu adalah barang kaum mukminin yang hilang, maka dimana saja dia mendapatkanyya disitulah ia mengambilnya. Hendaknya ia meninggalkan pendapatnya dan menagmbil pendapat gurunya, sesungguhnya kesalahan seorang guru lebih bermanfaat bagi seorang murid ketimbang kebenaran dirinya sendiri.” (Mukhtashar Minhaj al-Qashidin: 16)

Saudaraku…

Mari kita belajar adab, menghargai guru dan saudara-saudara kita yang mengajari kita ilmu ini. Melalui tarbiyah atau sarana belajar apa saja yang sedang kita geluti.

Akhukum fillah,  Alfaqiiru ila maghfirati rabbihi

Baca Juga >>

URGENSI TARBIYAH ISLAMIYAH (1)

Urgensi Tarbiyah Islamiyah (02)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »