Potensi diri

Ternyata Inilah Jawabannya

Dec 9 • Aqidah • 649 Views • No Comments on Ternyata Inilah Jawabannya

Oleh :Ustadz Askaryaman, S.Pd., M.Pd

(Praktisi Anak dan Remaja)

Disaat membaca ayat Al-Qur’an yang terdapat  dalam Surah An-Nahl ayat yang ke 78, tak terasa mata ini menitikkan air mata, dan tak henti-hentinya bibir berucap syukur Alhamdulilah dan Istighfar berulang-ulang akan kelalaian ini.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut  ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (QS. 16 : 78)

Ayat diatas menerangkan kepada kita begitu banyak pelajaran berharga serta nikmat yang Allah berikan, yang sering kita lalaikan dan tidak menyukurinya. Diantara pelajaran berharga itu yang menyebabkan air mata ini tertumpah adalah:

  1. Semua manusia pada saat terlahir kemuka bumi ini, semuanya sama. Masing-masing  keluar dari perut ibunya, dan semuanya pada saat terlahir tidak mengerti apa-apa. Orang-orang yang hebat seperti Imam Syafi’i, Imam Malik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, demikian pula tokoh ternama lainnya seperti  Soekarno, Habibie, poniman, mega, askar, antum, anti, dll. Sewaktu mereka terlahir dalam keadaan tidak mengerti apa-apa. Tidak ada satupun manusia yang terlahir dan telah menghafal Qur’an, atau langsung bisa menjadi orator ulung, atau bisa membuat pesawat, atau langsung bisa membaca. Rupanya kita semua sama dengan orang-orang besar itu, kapan??

Pada saat terlahir diatas permukaan bumi ini, yaitu tidak mengerti apa-apa.

  1. Allah memberikan kepada kita nikmat yang sangat besar yaitu pendengaran, penglihatan dan hati, yang tentunya patut disyukuri. Manusia yang mampu mensyukuri ni’mat yang luar biasa ini dengan cara mengoptimalkannya dan mendayagunakannya dengan baik.

“Siapa saja yang dapat memaksimalkan potensi pendengar,penglihatan dan hati, maka ia akan menjadi manusia yang berbeda, namun jika tidak dimaksimalkan maka ia akan menjadi manusia yang biasa-biasa saja yakni tidak mengerti apa-apa”.

Inilah yang membedakan antara kita dengan orng-orang hebat itu. Mereka mampu memaksimalkan potensi dan mengetahui dengan sadar dengan ke 3 potensi yang Allah berikan, kita dituntut untuk bisa memaksimalkan potensi. Namun sekedar untuk mengetahui potensi itu saja pun tidak pernah.

Lihat lah Al Imam Assyafi’i, dalam usia 9  tahun mampu menghafal Al-Qur’an, beliau dapat menghafal Kitab Almuwattha’ nya Imam Malik dalam tempo 9 malam yang berisi 1720 hadits. Beliau diusia 15 tahun sudah menjadi mufti di kota Mekkah. Bandingkan dengan kita diusia 9 tahun, apa yang sudah kita hafal ?, hmmm iqra’ saja belum tammat. diusia 15 tahun, kita sudah jadi apa ? hmmm, mungkin menghabiskan waktu di warnet.

Coba kita menengok lagi beberapa contoh  Sahabat Rasulullah yang mulia Abu Hurairah Rhadiallahu anhu,beliau masuk Islam diusia 60 tahun tetapi beliau menghafal kurang lebih 5374 hadits. Abul Hasan bin Abi Jaradah (548 M), seorang ulama dari Bani Jaradah menulis kitab-kitab berharga sebanyak 3 lemari, syaikh Abu Bakar Al anbari, beliau sakit karena sering membaca, dan beliau membaca setiap pekan lebih dari 10.000 halaman. Syaikh Ali Tanthawi, membaca 100-200 halaman setiap hari, menulis artikel kurang lebih 13.000 halaman dan yang hilang lebih banyak lagi. Ibnu Jarir At Thabari selama 40 tahun dari usia terakhir menulis 40 hal setiap hari. Dan begitu banyak lagi yang lain, ckckckck, sungguh mereka semuanya  luar biasa. Mengapa mereka bisa hebat seperti itu, mengapa mereka bisa mengukir sejarah bahkan berbeda dengan manusia-manusia yang lain. Jawabannya adalah, karena mereka mampu mengoptimalkan potensi yang Allah berikan sementara kita, hmmm, kita tidak ada apa-apanya karena memang kita tidak memanfaatkan potensi itu, sehingga kita hanya menjadi manusia biasa.

Mereka adalah orang-orang yang mulia karena mensyukuri nikmat yang Allah beri dengan menggunakan waktu dengan baik untuk mengoptimalkan potensi tersebut. Sementara kita juga menghambur-hamburkan waktu dan membuangnya percuma untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Astaghfirullah, inilah kita hari ini, maka kita tidak pernah menjadi apa-apa, jika matipun tak ada karya yang dapat dibanggakan untuk dikenang.

Astaghfirullah, jangan-jangan kitalah yang dimaksud dalam Al-Qur’an ,

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang -orang yang lalai” (QS. 7 : 179).

Kitalah mungkin orang-orang yang lalai itu, kitalah mungkin orang-orang yang nasibnya sama saja seperti hewan, bahkan lebih jelek dari hewan, karena kita diberi potensi yang besar itu, sementara hewan tidak. celakanya, astaghfirullah, jangan sampai kita mendapatkan azab, karena tidak mensyukuri potensi tersebut.

Tak terasa menetes lagi air mata ini, semoga diumur yang tersisa ini dapat lebih bermanfaat lagi dan dapat menjadi manusia yang bersyukur atas nikmat yang diberikan

Baca Juga >>

Investasi Masa Depan

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »