Wahai Jiwa, Bangkitlah Dari Keputus Asaanmu

May 19 • Uncategorized • 314 Views • No Comments on Wahai Jiwa, Bangkitlah Dari Keputus Asaanmu

Oleh : Ustadz Muh. Ode Wahyu

Sahabat…
Kita pasti mendapatkan kehidupan ini tak pernah henti dari ujian. Belum juga usai satu masalah, masalah baru yang terasa lebih berat terkadang datang melanda, atau mungkin ketika kita baru dapat bernafas lega karena selesai dari satu masalah, tiba-tiba satu atau dua musibah baru menimpa.

Kehidupan dunia ini memang berat, bahkan mungkin oleh sebagian orang menganggapnya sangat kejam. Karena itu, kita mungkin kadang kala mendengar berita tentang seseorang yang nekat bunuh diri karena tak mampu menghadapi ujian hidupnya, atau tiba-tiba masuk rumah sakit jiwa karena stres memikirkan beratnya kehidupan dunia, atau putus asa hingga menganiaya dirinya sendiri karena tidak sanggup atau trauma akan musibah yang amat menyakitkan hatinya. Sebagian dari mereka ini adalah orang-orang yang lalai.

Lalai, ya lalai…
Mereka menganggap kehidupan itu hanyalah yang mereka rasakan sekarang saja, apa yang ada di depan matanya. Hingga tatkala satu ujian dari Allah diberikan, berupa dicabutnya satu nikmat darinya, ia merasa bahwa kehidupan dunia telah berakhir, dunia sangat kejam, Allah tak berbuat baik dan adil padanya, atau segala jenis buruk sangkanya kepada Allah azza wajalla.

Sahabat…
Mari renungkan satu perkataan indah nan penuh hikmah dari seorang guru, orang tua yang telah banyak makan garam dalam melalui kehidupan ini, Syaikh Ali ath-Thanthwi rahimahullah, ia berkata:

ولكن الغافلين المساكين الذين أصيبوا بقصر النظر فلا يرون إلا ما بين أيديهم ، ويحسبون أن حياة الإنسان هي هذه الأيام التي يقضيها في الدنيا ، ولو وضع على عينيه نظرات الشرع – لمداواة ما به من قصر النظر- لرأى أن الطريق أمامه طويل وأن السفر بعيد وأن هذه الحياة الدنيا مرحلة من مراحل العمر ليست هي العمر.

Orang-orang yang lalai nan menyedihkan adalah mereka yang memiliki pandangan pendek akan kehdiupan ini. Tidaklah mereka memahami kehidupan kecuali yang mereka alami saat ini di depan matanya, lalu menganggap bahwa kehidupan seorang manusia hanyalah hari-hari yang sedang dilaluinya kini di dunia. Jikalau diletakkan di hadapannya pertimbangan-pertimbangan syariat -untuk mengobati pandangan pendeknya itu- maka sungguh ia akan beranggapan bahwa jalan teramat jauh di hadapannya, perjalanan safar yang harus ditempuh terasa sangat jauh, dan kehidupan dunia ini yang merupakan satu marhalah (tingkatan) dari marhalah-marhalah kehidupan bukanlah kehidupan itu.

إننا كركب مسافرين يقطعون ما بين المشرق والمغرب نزلوا ساعة يسترحون. فالأحمق يحسب أن الطريق انتهى فيأكل زاده ويسيب دابته ولا يعد العدة للمسير. وإذا قامت القافلة ومشت تخلف عنها أو ضل في البادية أو مات من الجوع. والعاقل من يعلم أن عليه أن يريح راحلته ويعلفها ليقطع الطريق عليها ويوفر زاده ليكفيه أيام الرحلة

Sesungguhnya kita ini laksana kafilah para musafir yang sedang melalui jalan antara timur dan barat, dimana mereka berhenti sejenak untuk beristirahat. Adapun seorang yang dungu, ia mengira bahwa perjalanan hidup ini telah berakhir, sehingga ia memakan seluruh perbekalannya, meninggalkan kendaraannya dan tidak mempersiapkan diri untuk perjalanan berikutnya. Jika kafilah itu telah berjalan kembali melanjutkan perjalanannya, ia justru berpaling dari kafilah itu atau tersesat dalam gurun sahara yang luas hingga binasa karena kelaparan.

Adapun seorang yang berakal adalah seorang yang mengetahui bahwa yang terbaik bagi dirinya adalah kembali mengendari kendaraannya dan memperjalankannya untuk melalui jalan itu, dan ia akan memperbanyak perbekalannya guna mencukupkan dirinya pada hari-hari bersantai ria.

وما هذه الحياة؟ ما مدتها؟ سبعون سنة، مئة سنة، مئة وخمسون؟ هل يعيش أحد أكثر من مئة وخمسين سنة؟ وما مئة وخمسين سنة يالنسبة إلى الآخرة؟ بل هبوه عاش عمر نوح، قريبا من ألف سنة فما ألف سنة؟ إنها كيوم واحد من أيام الآخرة بل إن في الآخرة يوما مقداره خمسون ألف سنة.

Lalu apa sih kehidupan dunia ini? Berapa jangka waktunya? 70 tahun, 100 tahun atau 150 tahun? Apakah ada seseorang yang hidup lebih dari 150 tahun? Berapa lama kehidupan 150 tahun itu jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat? Anggaplah ada yang dapat hidup seperti umur Nabi Nuh yang hampir 1000 tahun, lalu apa artinya seribu tahun itu? Ia hanyalah terhitung satu hari jika dibandingkan dengan hari-hari akhirat, bahkan di akhirat sehari disana perbandingannya sama dengan 50.000 tahun di dunia ini.

فأين نحن من ذكر الآخرة؟ لقد نسيناها وشغلتنا عنها ترهات الدنيا وهموم العيش والتقاتل على حطام فإن لا يبقى بعد الموت شيئ. إننا نري الأموات تمر بنا موابكهم كل يوم ولكن يظن أن الموت كتب على الناس كلهم إلا علينا ونبصر القبر تملأ الأرض ولا نفكر أننا سننزل يوما إلى القبر

Dimanakah diri kita dari mengingat akhirat? Sungguh kita terlalu sering melupakannya karena disibukkan oleh kebohongan-kebohongan dunia, duka hati kesedihan hidup, dan berperang memperebutkan harta dunawi yang semua itu tidak akan tersisa sedikitpun. Kita melihat mayat-mayat lewat di hadapan kita hampir setiap hari, namun perasaan kita selalu menipu sehingga menganggap seolah-olah kematian itu ditetapkan untuk seluruh manusia kecuali kita. Kita juga melihat kuburan yang memenuhi bumi namun kita lalai untuk berfirkir bahwa kita suatu saat akan tidur dalam gelapnya kubur itu juga. (Nur Wa Hidayah: 12)

Karena itu wahai sahabat…

Jika dirimu hari ini adalah termasuk diantara orang-orang yang sedang putus asa, sedih, stress atau sakit hati karena kerasnya penindasan cinta yang telah mengkhianatimu hingga patah arang, maka bersabarlah.

Jika dirimu hari ini adalah termasuk diantara orang-oang yang sedang putus asa, sedih, stress atau sakit hati karena jatuh bangun melalui terjalnya ujian hidup, maka bersabarlah.

Jika dirimu hari ini adalah termasuk diantara orang-orang yang sedang putus asa, sedih, stress atau sakit hati karena kehilangan seseorang yang engkau kasihi, maka bersabarlah.

Renungkanlah nasehat Tuhanmu yang begitu mulia kepada orang-orang mulia yang kalah dalam perang uhud, Dia berfirman:

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran: 140)

Karena itu wahai sahabat, pahamilah arti ujian ini, hari-hari ini hanyalah hari-hari yang Allah pergilirkan diantara manusia antara kejayaan dan kesedihan, agar kita mendapat pelajaran. Maka janganlah menzhalimi dirimu sendiri dengan menjebaknya dalam samudra kesedihan yang membuatmu putus asa dari rahmat-Nya.

Ingatlah satu kalimat agung dari Tuhanmu, Dia berfirman:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf: 87)modal

Tersenyumlah… 🙂

Baca Juga >>

Peran Pemuda Dalam Mengisi Kemerdekaan

Sudahkah Kita Memiliki Modal Masuk Surga?

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »