Dakwah dan Realitas Sosial

Jul 30 • Muamalah, Tarbiyah • 221 Views • No Comments on Dakwah dan Realitas Sosial

Oleh : Ustadz DR (Hc) Muh. Zaitun Rasmin, Lc., MA.

(Ditranskip dari Khutbah Jum’at)

Di Zaman Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa sallam  pernah terjadi pertikaian antara bangsa Persia & Romawi, hingga menyeret kedua nya kedalam perang. Bangsa Romawi saat itu memeluk agama Nasrani dan meyakini adanya kitab dan kenabian. Sedangkan Bangsa Persia memiliki keyakinan paganisme mereka menyembah api dan menjadikannya sebagai sesembahan. Dalam perang tersebut bangsa persia mengalahkan Romawi dan mencaplok sebagian wilayah Romawi. Dalam peristiwa tersebut, kaum muysrikin Quraisy mendukung Bangsa Persia karena mereka memiliki kedekatan kayakinan, yaitu mereka menganut paganisme, dimana kaum Quraisy menyembah patung & Mengingkari kenabian. Sedangkan kaum Mulsimin mempunyai beberapa kesamaan keyakinan dengan bangsa Romawi yaitu meyakini kitab dan kenabian, sehingga kaum Muslimin mendukung Bangsa Romawi. Dalam perang dengan bangsa persia Romawi menderita kekalahan, dan karenanya orang kafir Quraisy mengejek kaum Muslimin. Namun Allah Shubhana wa ta ‘ala berfirman & menyebutkan bahwa Romawi akan kembali kembali menang. Dalam firman-Nya:

artinya : “Alif Laam Miim (1) Telah dikalahkan bangsa Romawi (2) Di Negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang (3) dalam beberapa tahun lagi..(4)” (Q.S. Rum : 1-4)

(Baca : Arti Penting Kemenangan Romawi)

Orang-orang musyrikin tentu tidak percaya dengan hal itu lalu mereka mau bertaruh, apa lagi dikatakan dalam ayat itu Fii Bid’i Siniin (beberapa tahun lagi).  Kaum Muslimin pun bertaruh dengan mereka. Setelah waktu berlalu selama lima tahun, ternyata bangsa romawi belum kembali menang. Orang-orang musyrikin kembali mengejek orang orang beriman “bahwa kalian mengatakan bangsa romawi kembali menang” ternyata tidak. Merekapun  melapor kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata bahwa ayat sudah turun menjelaskan tentang  bangsa Romawi yang  nanti akan menang dalam beberapa tahun lagi. Dan mereka sudah bertaruh bahwa lima tahun lagi akan menang setelah sampai lima tahun belum juga, kemudian disepakati dalam waktu tujuh tahun. Tujuh tahun pun berlalu, tapi  tidak juga terjadi kemenangan. lalu nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya(kepada Orang kafir)  “Dalam  bahasa kalian Bid’i Sinin itu brapa tahun? Dia (org musyrik) berkata : “Dia dibawa sepuluh tahun”. Nabi Pun berkata “Kalau begitu semestinya kalian jangan berkata tujuh tahun dia harus sebelum sepuluh tahun”. Dan ternyata ketika orang musyrikin berkata kepada orang beriman “Baik kami tambah lagi dua tahun kita lihat apa benar ayat-ayat itu” . Dan sebelum Sembilan tahun bangsa Romawi pun kembali mendapatkan kemenangan mengalahkan bangsa Persia. Inilah kebenaran Firman Allah tersebut Wahum Mimba’dihim Sayaqlibuun “ mereka (bangsa romawi) setelah dikalahkan akan menang” fii bid’i sinin “dan beberapa tahun”. Dalam bahasa Arab  al bid’u itu adalah antara tiga sampai sepuluh.

Pelajaran dari Peristiwa ini

Pelajaran terpenting yang dapat dipetik dari kejadian ini :

Pertama, Perlunya kepedulian terhadap apa yang terjadi disekeliling kita,

Yang kedua, orang beriman dalam melihat masalah sosial kemasyarakatan yang terjadi, sebaiknya tidak menggunakan kacamata hitam putih, tapi menggunakan suatu sistem nilai dengan parameter Al-Maslahah dan Mafsadah.

Yang Ketiga, Sebenarnya kalau kita lihat secara detail, dalam konteks ini sesungguhnya orang-orang Nasrani adalah orang-orang yang mengingkari kenabian Nabi Muhammad. Mereka telah mengubah-ubah kitab suci mereka dan orang Nasrani bisa menjadi saingan kaum muslimin didalam mengajak dijalan  Allah. Sebab mereka ahlul kitab punya kitab juga, sehingga kalau kaum Muslim berdakwah keorang-orang musyrikin, Orang nasrani bisa saja mengatakan “kalau orang Islam mengajak kepada Allah, kami juga mengajak kepada Allah. Kami mengajak kepada Nabi Isa dan mereka mengajak Nabi Muhammad” Artinya dilapangan mereka adalah saingan dakwah. Mereka juga mengingkari kenabian Nabi Muhammad, mereka merubah Injil.

Tetapi tiga hal ini tidak menghalangi orang beriman untuk memiliki rasa solidaritas dengan orang-orang Romawi. Mengapa ?, karena kaum muslimin sedang berhadapan dengan kaum musyrikin. Dimana antara Romawi dan Kaum Muysrikin Makkah saling bertolak belakang.

Bangsa Romawi  adalah Nasrani, karena hal itu bukan berarti  orang beriman mengatakan  “ ah kita tidak ada urusan, nasrani menang atau orang musyrikin yang menang kita tidak ada urusan sama saja“, tapi ternyata Al Qur’an tidaklah demikian dan hadist shahih pun yang menjelaskan ini tidaklah demikian, mungkin bapak dan saudara bertanya sekarang apa kaitanya dengan kehidupan kita sehari hari ?

Ini hal yang penting untuk diketahui bahwa orang beriman harus mengunakan manhaj (cara) ini. Karena terkadang dalam kehidupan sehari-hari kita, baik secara individu maupun secara organisasi kita temui adanya perbedaan antara satu dan lainnya. Misalnya saja kita berbeda dengan individu atau organisasi lain, tapi kita sesama organisasi dakwah, dan kita meyakini bahwa organisasi dakwah fulan punya penyimpangan atau kekurangan yang mendasar atau mereka adalah saingan utama kita didalam dakwah. Mungkin saja ini terjadi, tetapi kita tidak boleh untuk kemudian merasa tidak punya hubungan apa-apa dengan mereka, Sebab mereka juga orang-orang yang beriman, mereka muslim. Apalagi mereka organisasi dakwah ahlu dakwah, mereka orang yang turut serta dalam memperjuangkan Islam walaupun mungkin saja ada kelemahan atau penyimpangan mereka. Jadi kita tidak mengunakan kacamata hitam putih sehinggah ketika mereka berhadapan dengan musuh-musuh Islam atau saat mereka berhadapan dengan orang yang lebih buruk atau lebih jauh jaraknya daripada kita ini, maka kita harus mempunyai sikap yang jelas bersolidaritas dengan organisasi dakwah tersebut, yang sekalipun dalam penilaian kita mereka mempunyai kekurangan ,penyimpangan atau mungkin hanya  “saingan” kita di apangan dakwah. Maka kita tidak boleh sama sekali bergembira kalau mereka kalah dari musuh Islam dan tidak boleh kita senang jikalau mereka mengalami musibah karena bagaimanpun juga kita mempunyai hubungan yang lebih kuat, yakni hubungan aqidah dan hal-hal lain yang masih sama dengan kita.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »