Halaqah Tarbiyah Sebagai Sarana Hidayah

Jan 2 • Tarbiyah • 303 Views • No Comments on Halaqah Tarbiyah Sebagai Sarana Hidayah

Oleh : Ustadz Muh. Ode Wahyu, S.H.

Halaqah tarbiyah, demikian pertemuan ilmiah itu dikenal oleh orang-orang yang belajar Islam melalui sarana dan medianya. Halaqah yang sederhana, namun darinya banyak melahirkan Da’i-dai yang tangguh sebagai pejuang-pejuang dakwah, mereka rela diutus dimana saja demi kebangkitan Islam dan kemuliaan kaum muslimin.

Ia hanyalah halaqah-halaqah yang sederhana, tak seperti majelis-majelis akbar lainnya. Namun darinya banyak lahir cikal bakal para penghafal-penghafal al-Qur’an, yang menjadi muhaffizh-muhaffizh al-Qur’an di beberapa Ma’ahid. Tidak hanya menjadi cikal bakal penghafal saja, halaqah sederhana itu pun bahkan melahirkan para hafizh-hafizah al-Qur’an padahal mereka bukanlah alumni pesantren, melainkan hanya sekedar pekerja dan buruh bangunan saja.

Ia hanyalah halaqah-halaqah yang sederhana, yang mengisinya pun terkadang bukanlah ustadz-ustadz kondang, dimana namanya terkenal diseantero penjuru tanah air akan keluasan ilmunya. Namun, darinya banyak mengantarkan manusia pada pintu-pintu hidayah, lalu kemudian mengenalkan mereka pada ajaran Islam yang baik dan benar, yang washatiyyah, lemah lembut tapi tegas. Terlebih lagi yang diajarkan itu sesuai dengan pemahaman orang-orang shaleh terdahulu, Ahlusunnah demikianlah nama populernya.

Begitu banyak manusia yang mendapat hidayah melalui pertemuan pekanan sederhana ini. Termasuk saya pribadi yang menulis artikel ini. Dahulu saat ikut tarbiyah bahkan sayapun tidak tahu ngaji, dipertemuan inilah saya mencoba memacu semangat untuk belajar membaca al-Qur’an. Dahulu saya tidak punya hafalan Qur’an, disinilah saya mulai belajar menghafal Qur’an. Dahulu saya tidak punya hafalan hadits, disinilah saya mulai menghafal hadits Arbain. Dahulu saya tidak tahu akidah dan manhaj yang benar, disinilah saya mengenal itu semua. Saya tidak sedang memuji diri, tapi sedang bersyukur, kalau Allah telah memberikan hidayah kepada saya melalui halaqah sederhana yang disebut sebagai halaqah tarbiyah.

Telah terbukti, banyak orang yang mendapatkan hidayah dan faidah yang sangat banyak dari halaqah sederhana itu. Namun sangat disayangkan, banyak pula diantara mereka yang telah mendapat hidayah dari halaqah itu, justru balik mencelanya bahkan mengharamkannya, setelah sekian lama menimba ilmu dari halaqah kecil itu. Memang sangat disayangkan, mereka sangat kurang bersyukur sehingga lupa, kalau ilmu yang mereka ketahui itu awalnya mulai dipelajari dari halaqah itu, hidayah juga menyapa mereka dari halaqah sederhana itu.

Saya cukup takjub dan terharu pada tulisan Dr. Umar Ibnu Abdillah al-Muqbil hafizhahullah ketika beliau menyebutkan kebaikan akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membalas perbuatan seorang musyrik yang pernah berbuat baik padanya, dalam kitab yang ia tulis berjudul Qawaaidu Qur’aniyyah. Sebuah kitab yang berisi 50 kaidah-kaidah agung dari ayat-ayat al-Qur’an, yang begitu indah jika dipraktekkan dalam kehidupan. Diantara kaidah itu adalah satu ayat yang terdapat pada surah al-Baqarah:

وَلا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ

“Dan janganlah kamu melupakan keutamaan (kebaikan) diantara kamu.” (QS. Al-Baqarah: 238)

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada di kota Makkah saat kembali dari kota Thaif, orang-orang saat itu sangat membenci dirinya, bahkan beliau tidak boleh memasuki kota Makkah tanpa ada perlindungan dari seorang tokoh saat itu.

Adalah al-Muth’im Ibnu Adi seorang laki-laki musyrik bahkan mati dalam kekafirannya, yang melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia bersama kaumnya keluar mengenakan senjata untuk melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika ia meninggal dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Jika seandainya al-Muth’im Ibnu Adi masih hidup dan ia meminta kepadaku untuk membebaskan tawanan kafir pada perang badar tanpa tebusan, niscaya aku akan bebaskan mereka demi dirinya.”

Masya Allah, ini balasan yang amat besar kepada seorang musyrik yang melindungi dirinya. mengapa kita sebagai muslim tidak mencontoh akhlak yang indah ini? Padahal tawanan dalam perang badar itu adalah orang-orang yang berniat menghabisi nyawa-nyawa mereka karena perbedaan agama antara mereka. Tidak menutup kemungkinan juga jika mereka dibebaskan bisa memberi mudharat yang lebih besar kepada kaum muslimin, karena jumlah mereka yang saat itu sangat sedikit, terlebih saat itu kaum muslimin selalu mengalami penyiksaan dari orang-orang kafir sehingga mereka harus hijrah ke Madinah.

Lalu bagaimana dengan halaqah tarbiyah yang darinya banyak melahirkan para penghafal al-Qur’an? Bagaimana dengan halaqah tarbiyah yang telah banyak melahirkan para da’i? Bagaimana dengan halaqah tarbiyah yang telah banyak mengantarkan kaum muslimin pada hidayah manhaj dan akidah yang hak? Bagaimana dengan halaqah tarbiyah yang mendidik manusia untuk memiliki akhlak yang baik, dekat dengan al-Qur’an dan jauh dari kesyirikan? Tidakkah seharusnya ini lebih utama untuk disyukuri?

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

«