Kitab Permulaan Wahyu

Apr 18 • Hadits • 296 Views • No Comments on Kitab Permulaan Wahyu

 


Oleh : Rachmat Badani Lc., MA.

Bab: Permulaan wahyu

📜 Hadis 1

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.

Dari Umar bin Al Khaththab, Ia berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan”

Fawaid:

1. Para ulama berbeda pendapat tentang alasan mengapa Imam Bukhari tidak memulai kitabnya dengan muqaddimah. Beliau justru memulai kitabnya dengan mengangkat hadis ini sebagai hadis pertama. Diantara alasan yang dikemukakan adalah:
– Melalui hadis ini Imam Bukhari hendak menjelaskan ketulusan niatnya tatkala menulis kitab shahihnya.
– Hadis ini diriwayatkan melalui sahabat Umar bin Khattab tatkala Ia berkhutbah di atas mimbar, sehingga apabila hadis ini dapat dijadikan sebagai muqaddimah khutbah secara lisan maka ia pula dapat dijadikan muqaddimah khutbah secara tulisan atau sebagai muqaddimah sebuah kitab.
– Kitab shahih Bukhari mengangkat hadis-hadis Nabi yang merupakan wahyu Allah ta’ala, sehingga sangat pantas bila Imam Bukhari mengangkat bab pertama tentang permulaan wahyu, dan bila wahyu Allah itu menjelaskan syariat-syariat-Nya maka sangat tepat apabila dimulai dengan hadis di atas seputar amalan.

2. Hadis ini adalah dalil dan dasar utama dalam agama Islam. Telah diriwayatkan dari para salaf bahwa hadis ini merupakan 1/3 agama islam, atau 1/4nya, juga hadis ini dapat dijadikan dalil dalam 70 pintu ilmu syari.

3. Hadis ini adalah hadis ahad (garib) karena tidak diriwayatkan dari Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu kecuali dari 1 jalur saja hingga sampai kepada Yahya bin Said. Dari Yahya kemudian hadis ini banyak diriwayatkan oleh para perawi bahkan sampai pada jumlah derajat mutawatir.

4. Lafadz amalan dan niat dalam hadis di atas disebutkan dalam bentuk jamak, yang bermakna bahwa setiap amalan-amalan bergantung kepada niat-niatnya. Oleh karena ada begitu banyak niat dari amalan yang dilakukan oleh seseorang, ada yang berniat karena Allah, atau untuk urusan duniawi dan sebagainya. Sedangkan di dalam riwayat lainnya, lafadz niat disebutkan dalam bentuk tunggal yang menunjukkan bahwa tempat niat hanyalah satu yaitu hati dan satu-satunya niat yang diterima adalah karena Allah ta’ala.

5. Hadis ini menjelaskan urgensi niat yang ikhlas dan keutamaannya, karena seluruh amalan bergantung kepada niatnya.

6. Diantara urgensi niat adalah untuk membedakan antara sebuah ibadah dan adat, antara ibadah yang satu dengan yang lainnya. Karena itu niat adalah perniagaan para ulama, oleh karena melalui sebuah ibadah, seseorang dapat memperoleh pahala yang banyak disebabkan niatnya, atau melalui sebuah adat dan kebiasaan, seseorang dapat memperoleh pahala bilamana diniatkan karena Allah.

7. Hadis ini mengajarkan salah satu diantara metode taklim yaitu dengan menyebutkan kaidah terlebih dahulu kemudian memberikan contoh untuk memperjelas dan menguatkan pemahaman audience.

8. Riwayat ini tidak menyebutkan lafadz hadis Umar secara sempurna (yaitu berisi “Siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya) namun akan disebutkan oleh Imam Bukhari pada bab-bab berikutnya. Sebabnya boleh jadi karena Imam Bukhari ingin mendahulukan riwayat Syaikhnya Al Humaidi yang berketurunan Quraisy sebagai bentuk pengamalan hadis Nabi untuk mendahulukan Quraisy, sedang pada riwayat Bukhari dari Al Humaidi adalah riwayat yang tidak lengkap. Atau boleh jadi karena Imam Bukhari hendak menjadikan hadis niat ini sebagai muqaddimah kitabnya, maka beliau meriwayatkan matan yang tidak lengkap, agar beliau tidak terjatuh dalam perbuatan mentazkiah diri beliau sendiri.

9. Diantara hal yang dapat membinasakan seseorang adalah perkara syahwat, kepada dunia dan wanita. Disebutkannya syahwat kepada wanita dalam hadis ini padahal ia merupakan bagian dari dunia, disebabkan karena besarnya fitnah wanita yang dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad sebagaimana dalam hadis lainnya.

10. Disebutkan bahwa hadis ini disabdakan oleh Nabi Muhammad berkenaan dengan kisah seorang pria yang enggan melakukan hijrah karena Allah, namun ia melakukannya untuk menikahi seorang wanita semata yang bernama Ummu Qais.

✒ Rachmat Badani Lc., MA.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »