Proses Turunnya Wahyu

May 4 • Hadits • 338 Views • No Comments on Proses Turunnya Wahyu

Oleh : Ustadz  Rachmat Badani Lc., MA.

[judul  Kitab Permulaan Wahyu, Bab: Permulaan Wahyu]

 

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا

أَنَّ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا.

 

Dari Aisyah Ibu Kaum Mu’minin, bahwa Al Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, bagaimana caranya wahyu turun kepada engkau?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Terkadang datang kepadaku seperti suara gemerincing lonceng dan cara ini yang paling berat buatku, lalu terhenti sehingga aku dapat mengerti apa yang disampaikan. Dan terkadang datang Malaikat menyerupai seorang laki-laki lalu berbicara kepadaku maka aku ikuti apa yang diucapkannya”. Aisyah berkata: “Sungguh aku pernah melihat turunnya wahyu kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari yang sangat dingin lalu terhenti, dan aku lihat dahi Beliau mengucurkan keringat.”

 

Fawaid:

[1] Al Harits bin Hisyam adalah saudara kandung musuh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu ‘Amru bin Hisyam Abu Jahal. Al Harits memeluk agama islam pada peristiwa Fathu Makkah dan Ia termasuk sahabat Nabi yang mulia. Al Harits meninggal dunia pada peperangan Negeri Syam sebagai seorang syahid.

 

[2.] Hadis ini menjelaskan 2 cara/proses turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu melalui suara gemerincing lonceng dan berubahnya Malaikat Jibril menjadi rupa seorang laki-laki. Kedua cara ini boleh jadi adalah yang paling sering terjadi kepada Nabi, karena ada hadis-hadis lainnya yang menunjukkan cara/proses lainnya seperti; Melalui suara yang menyerupai bunyi lebah, ilham, mimpi yang benar, berjumpa dengan Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya, firman Allah saat Isra Mi’raj, dan sebagainya. Namun diantara ulama ada yang menafsirkan bahwa beberapa cara-cara tersebut kembali kepada 2 cara yang disebutkan dalam hadis di atas.

 

[3]. Suara lonceng terdiri dari dua unsur; pertama adalah kuatnya suara lonceng tersebut, kedua adalah suara gemerincing yang dihasilkannya. Unsur pertama(kuatnya suara lonceng itu) adalah apa yang dimisalkan oleh Nabi dengan wahyu yang dibawa oleh Malaikat Jibril dalam hadis ini. Adapun unsur kedua maka ia bukanlah maksud Nabi dalam hadis ini, karena suara gemerincing lonceng telah dilarang di dalam agama Islam sebagaimana hadis Muslim bahwa para Malaikat menjauh dari suara lonceng. Karenanya pula tatkala Nabi hendak mengadakan lonceng sebagai penanda masuknya waktu shalat, maka Allah mengajarkan  yang lebih baik kepadanya yaitu adzan melalui mimpi 2 orang sahabat; Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi dan Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhuma.

 

[4. ] Makna “shalshalah” dimaknai sebagai wahyu Allah yang disampaikan oleh Malaikat Jibril, atau ia adalah suara kepakan sayapnya.

 

[5.] Datangnya wahyu seperti kuatnya suara lonceng adalah yang terberat bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, artinya wahyu itu sangat berat bagi Nabi namun yang terberat adalah jenis di atas. Hal ini juga menjadi salah satu penafsiran “Qaulan Tsaqilan” di dalam surah Al Muzzammil: 5.

 

[6.] Hadis ini menunjukkan bahwa Malaikat Jibril dapat merubah penggambaran dirinya seperti seorang pria. Dan cara penerimaan wahyu ini adalah yang paling mudah menurut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam karena beliau seakan berbicara kepada seorang manusia biasa sebagaimana hadis Jibril yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab tentang makna Islam, Iman, dan Ihsan.

 

[7.]  Terdapat tambahan riwayat dalam hadis ini yang merupakan ucapan Aisyah radiyallahu ‘anha dimana beliau mensifatkan beratnya proses turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad, dimana beliau sampai berkeringat pada musim yang sangat dingin.

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

«